Tuhan, bolehkah aku marah?

lelah aku tangisi dunia. mendung, hitam, berantakan. keluhku tak punya jawaban. tanyaku berkarat di pikiran. adakah dosa yang teramat jahanam?

sementara mereka teratur rapi. renjana yang bersemi. pinta kemudian diberi. juga mimpi-mimpi yang terpenuhi.

sungguh buncah ini ingin tumpah. meluap samudera. serapah dalam kepala. hendak ke mana lagi langkah? Tuhan, bolehkah aku marah?

hari ini saja

hari ini saja

Hari Mengulang Tahun

pada embus napas yang terengah kau tercipta. sepuluh tahun kau menari. dua puluh tahun kau ingin lari. kemana saja ingin hatimu. agar luka atas dunia dapat kauhindari.

hari ini doa-doa dari bumi menguap ke langit. kaurapal segala yang baik dengan amin. amin yang paling sungguh. agar terketuk pintu Sang pemilik semesta.

dan saat Ia berkata “jadilah”, maka jadilah.

Membaca Kegagalan

sejak penolakan yang terbaca di matamu, menulis kesedihan tak pernah lagi aku mampu. mereka hanyalah alphabet acak yang menari-nari di pikiranku yang koyak.

sajakku sudah tak pernah sempurna. bagaimana lagi aku harus mengungkap luka? ini gagal memang terlampau biasa. tapi, menahan sedih jiwa siapa yang bisa?

Hahaha

“hahaha”, tawaku pada hari di mana daun-daun muka rumah gugur. terseret potret mesra di lini masa. lengkaplah aku yang angin dan mendung.

kumainkan beberapa ingatan di kepala. ah kenapa terlalu cepat menjadi fana? belum saja kutulis lembar-lembar sajak merah muda. terkubur sudah di liang masa lampau.

sejenak terpicu duka yang lalu. kusambut riang bersama elegi pukul sepuluh. apa kabar kasih tak tersemai? menarilah lincah di kelopakku yang basah.

Di bawah jendela kamar

air langit mengetuk-ngetuk kaca jendela. aku terpaksa bangkit sebab jaringan tak ada. petrichor pun tidak tercium di luar sana.

kubuka jendela, kutanya kabar langit. hanya ada rintik, lalu ia balik bertanya. di telingaku masih berdendang ฝนตกไหม dari Three Man Down.

kubilang, aku akan terus lapang sepertimu. semendung, seterik, atau sehujan apapun itu. sebab duka tidak pernah selamanya.

kau akan kembali biru. membentang seluas-luasnya. melukis pelangi. memeluk bumi.

Mengulang Juni

pagi masih terlalu basah. di luar jendela gumpalan abu-abu mengangkasa. mataku sudah bangun, ragaku belum. ia mencari-cari perihal makna juni yang selalu mengulang.

ini kali ke-24. tetapi tanya kian banyak. harap-cemas kian besar. aku kira semakin besar angka, semakin besar keberanian. nyatanya mereka tidak selaras. tidak beriringan.

setelah juni hari ini, besok akan tetap sama. kecuali kubangun paksa ragaku, mandi, lalu pakai baju. kurapal doa-doa, kuamini pula; milikku pun milikmu. sama saja. asal sesuai aturan semesta.

Sarapan dan Pikiran-pikiran

apa yang kau bayangkan sepagi ini dengan sepiring nasi kuning di depan matamu? tatapmu datar. kepalamu mengawang. bibirmu mengatup tak bergetar. kau seperti gambaran manusia tanpa gairah.

ada yang melintas padamu. tepat saat kausuapi dirimu dengan nasi kuning bertelur rebus dan bersambal cukup pedas. juga kerupuk yang paling menarik perhatian.

kau bayangkan sebuah kota yang lama tak kau jamah gedung-gedungnya. jalan-jalannya. kilang-kilangnya. kapal-kapalnya. hutan-hutannya. juga manusia yang mata dan hatimu kenali.

kau tahu sebuah kata telah menetap lama pada hatimu sejak tak ada lagi perihal kota dan tetek bengeknya yang bisa kau temui. pikiranmu; sekali lagi hanya mampu berimaji.

angkot warna-warni, patung beruang madu, pohon-pohon rindang. ia lebih dari itu. ia adalah rumah. ia adalah perasaan. ia adalah kotak penuh kenangan. juga masa kecil yang belum terbebani dunia.

pikiranmu; sekali lagi hanya mampu berimaji. kau lihat kembali kota yang kau anggap rumah. ia menjelma sesuatu yang asing. gedungnya, jalannya, hutannya, dan manusianya.

tak ada yang kau kenali selain dirimu sendiri. kini kau diinjak-injak realita. anganmu terbang. mimpimu jauh mengabur. harapmu kian lebur.

tapi kau dihadapkan mimpi yang lain. angan yang lain. harap yang lain. juga rumah yang lain. kau menemukan dirimu yang sebenar-benarnya. sejujur-jujurnya.

di sini; kota di mana kau sedang menyuapi dirimu dengan nasi kuning bertelur rebus dan bersambal cukup pedas.

Jangan dulu mati hari ini..

kau masih ingat hal-hal menenangkan sebelum menuju jam tidurmu? ketika besok kau bangun pagi ke sekolah dan kekasihmu sudah menjemput. ketika kawanmu mengiyakan PR matematikanya dicontek olehmu. atau ketika besok adalah hari jumat dan kau bebas memakai sepatu selain warna hitam. kurasa kau sudah lupa. bahkan pada jam tidurmu yang seharusnya.

kini kau sibuk mencaci dirimu. mengutuk semua langkah. memeluk sesal dan luka. kemudian hanya air mata yang berbicara dan kepala yang ingin pecah. tetapi besoknya kau bangun dengan perasaan masih ingin mati. lalu kau dengar penjual bakpao isi daging babi lewat dengan bell khasnya. ada juga penjual baskom anti pecah yang memukul-mukul baskomnya sendiri. kau tahu dia juga takut jika baskomnya benar-benar pecah.

ada pula mbok nasi kuning yang lewat tepat saat matahari di atas kepala. juga mas rujak yang memasang raut putus asa di wajahnya. kau diam. mencerna semua hal yang tidak dijelaskan oleh langit. lalu, sekali lagi, cacian dari mulutmu yang kau lempar untuk dirimu sendiri. goblok! goblok! goblok! barangkali, itu kata yang tepat untuk menampar seorang putus asa sepertimu.

kau kembali diam. lalu kau tengadah ke langit seolah sudah mengerti. bahwa kalutmu yang sepele hari ini akan menguatkanmu menghadapi kekalutan yang lain di kemudian hari. bangunlah, katamu menyemangati. jangan dulu mati hari ini.

Menjemput Kiriman

terik pukul dua di dermagamu. kau belum juga sandar. padahal ruang tunggu sudah terlalu asing untukku yang kehilangan identitas.

katamu kau hampir sampai. tapi di belakang pintu hanya ada orang-orang tua menjelma keterburuan. ransel, kresek, koper, semua berisi kecemasan.

aku mengenalinya sebab wajahmu ada di sana.

terik pukul dua lewat sedikit. ruang tunggu berubah menjadi ruang tanda tanya. aku masih duduk dengan aroma roti kopi yang menusuk.

masih tidak ada tanda-tanda.

masih tidak ada siapa-siapa.